Festival Kampung Internasional di Yogya

Irene Sarwindaningrum [ kompas.com Sabtu, 11 Juli 2009 | 17:38 WIB ] SLEMAN, KOMPAS.com – Dalam rangka menampilkan potensi kampung di DI Yogyakarta, sebuah Festival Kampung diselenggarakan di Bale Budaya Pedukuhan Samirono, Catur Tunggal, Depok Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (11/7).

Selain menampilkan seni budaya dari masing-masing kampung , festival yang merupakan puncak Yogyakarta Kampong Field School ini juga diisi dengan konferensi internasional Kampung Damaring Kutho yang artinya kampung sinar kota.

Konferensi internasional cukup unik karena diselenggarakan di tengah kampung yang melibatkan warga sekitar. Konferensi diisi paparan hasil penelitian 87 mahasiswa dari Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM), dan School of Archeology and Anthropology Australian National University (ANU).

Selama beberapa pekan terakhir, para mahasiswa telah mengamati kehidupan di 10 kampung di DI Yogyakarta. Sebanyak 10 kampung yang telah diamati dan turut dalam festival itu adalah Samirono, Dolahan, Pandean, Mergangsan, Suryowijayan, Minggiran, Pajeksan, Tukangan, Gondolayu, dan Jogoyudan.

“Meskipun mempunyai kesamaan sebagai hunian padat, namun masing-masing punya keunikan sendiri,” kata salah satu pemerhati kampung dari Universitas Kristen Duta Wacana sekaligus panitia acara Paulus Bawole, Sabtu (10/7).

Kampung Gondolayu yang terletak di tepian Kali Code, misalnya, dikenal dengan bangunan-bangunan artistik karya budayawan almarhum JB Mangunwijaya SJ. Bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu dan bambu itu sempat memenangkan penghargaan internasional pada tahun 1992.

Dalam festival itu , kampung Pandean yang dikenal sebagai kampung penghasil alat-alat musik gamelan menampilkan seni gejog lesung atau menalu lesung. Kesenian ini dulunya dimainkan masyarakat petani Pandean saat menumbuk padi.

“Tapi karena sekarang sawahnya sudah sangat sempit, gejog lesung hanya dimainkan untuk mempertahankan seni leluhur saja,” kata salah satu anggota Paguyuban Kesenian Pandean Krida Budaya, Ngatija (60).

Selain menyempitnya lahan terbuka, keberadaan kampung saat ini juga semakin terdesak oleh pertumbuhan kota dan tekanan kepentingan ekonomi. Akibatnya, sejumlah kampung di DI Yogyakarta saat ini telah kehilangan keasliannya. Warga kampung pun makin terdesak ke luar.

Permasalahan kampung saat ini merupakan salah satu topik yang dibahas dalam konferensi internasional. Festival juga akan diisi dengan Sarasehan Kampung yang diikuti masyarakat kampung serta budayawan dan seniman Yogyakarta. Dalam acara ini akan didiskusikan pembentukan jaringan kampung internasional yang akan melibatkan kampung-kampung yang terdapat di mancanegara.

Patrick Guinness, salah satu peneliti kampung asal Australia mengatakan, cara hidup masyarakat kampung yang informal sangat menarik bagi masyarakat Barat. Selain itu, masyarakat kampung juga mempunyai kemampuan untuk mandiri dan menghadapi krisis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s