Wayang Kulit Alami Krisis

[ kompas.com Jumat, 17 Juli 2009 | 21:35 WIB ]  SOLO, — Pertunjukan wayang kulit menghadapi masa krisis karena dalam beberapa tahun terakhir pergelaran wayang semakin sepi. Dukungan pemerintah dinilai amat kurang terhadap upaya pelestarian kesenian yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia ini.

Ki Manteb Soedharsono dan Ki Sayoko dari Surakarta mewakili kalangan dalang mengungkapkan kondisi krisis yang dihadapi pertunjukan wayang kulit saat ini kepada Kompas di Solo, Jumat (17/7). Indikasi krisis itu mereka tunjukkan dengan semakin sepinya tanggapan untuk pementasan wayang kulit secara merata di berbagai daerah.

Menurut Manteb, keluhan tentang sepinya tanggapan itu merupakan petunjuk surutnya apresiasi masyarakat terhadap pertunjukan wayang kulit. Ia membandingkan dengan masa-masa sebelum lima tahun terakhir; ketika itu apresiasi dan antusiasme masyarakat untuk menggelar atau pun menonton pentas wayang kulit amat besar.

Kami menilai, dukungan pemerintah, terutama pemerintah pusat, terhadap wayang sekarang ini amat kurang. Karena perhatian pemerintah pusat terhadap wayang kurang, maka perhatian pemerintah daerah pun ikut-ikutan tidak ada, paparnya.

Manteb menuturkan, pada acara peresmian RRI Programa 3 di Jakarta, Januari 2008, di tengah pementasan wayang, dirinya meminta kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar memberikan dukungannya pada kesenian wayang kulit. Presiden lalu minta kepada jajaran pemerintah untuk ikut melestarikan wayang, tetapi praktiknya tidak terjadi. Pentas wayang di Istana (Negara) pun tak pernah ada, tuturnya.

Ia menyebutkan, peran kalangan instansi pemerintah di berbagai tingkatan amat besar dalam rangka pelestarian salah satu seni budaya tradisi ini. Namun, kecilnya perhatian instansi pemerintah untuk menanggap wayang pada gilirannya berimbas ke masyarakat sehingga masyarakat pun kurang bergairah untuk menggelar pentas wayang.

Ki Sayoko, dalang kondang asal Klaten, menambahkan, keluhan tentang sepinya pergelaran wayang bukan semata menyangkut kelangsungan hidup dalang. Wayang mampu membangun jiwa nasionalisme dan menyampaikan ajaran moral luhur kalau tidak bisa dibilang bahwa wayang punya andil besar dalam pembinaan moral bangsa, ujarnya mengingatkan.

Sayoko menambahkan, pemerintah jangan hanya memerhatikan dalang saat punya kepentingan untuk mengampanyekan program-programnya, seperti KB, transmigrasi, dan pemberantasan buta aksara. Setelah tidak dibutuhkan, pemerintah begitu saja meninggalkan dalang, katanya. (asa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s