Bale Segolo-golo, Cerita Wayang Sarat Intrik Politik

Raditya Helabumi [ kompas.com Selasa, 28 Juli 2009 | 21:27 WIB ]   Ada kesan bahwa seni wayang identik dengan “barang kuno”. Ini tidak lain karena kelangkahan informasi dan kurangnya akses terhadap jenis kesenian ini, sehingga seni wayang kurang dipahami generasi muda khususnya, dan masyarakat luas pada umumnya.

Padahal wayang kulit sarat dengan kearifan budaya. Bersama dengan agama, kearifan budaya merupakan sarana perekat bangsa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sayangnya selama ini ada kecenderungan memposisikan budaya secara keliru, sebagai objek  propaganda politik dan ekonomi semata. Budaya belum dilihat sebagai komponen yang independen yang mampu memberikan kontribusi yang lebih banyak kepada masyarakat luas dan negara.

Negara seperti Malaysia dan Thailand bisa disebut sebagai contoh negara yang memiliki perhatian tinggi terhadap warisan budaya, menjunjung tinggi keragaman budaya, serta melestarikan dan mengembangkannya. Dengan pendekatan yang tepat, negara-negara tersebut tidak saja mampu tegak dengan menyandang identitas dan karakteristik budaya yang kuat, tapi pada saat yang sama juga mampu menjadikan budaya sebagai salah satu mesin pertumbuhan bagi perekonomian nasional.

Inilah yang menjadikan latar belakang Yayasan Lontar dan Putrowijoyo Parwo, bekerja sama dengan Center for Development Studies (CIDES ) dan Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) DKI Jakarta, menyelenggarakan pergelaran wayang kulit The Bima Series dengan cerita Bale Segolo-golo di Cilandak Town Square Jakarta, Kamis 30 Juli 2009. Cerita akan dibawakan oleh dalang kondang Ki Joko Edan.

ale Segolo-golo adalah seri kedua dari lima seri kisah kolosal yang terangkum dalam Bima Series. Seri pertama dengan lakon Bima Bungkus telah dipagelarkan di Hotel Dharmawangsa Jakarta, 24 April 2009, dengan dalang Ki H Anom Suroto. Seri ketiga dengan cerita Babad Wonomarto akan dibawakan Ki Manteb Soedharsono, seri keempat Wirata Parwa akan digelar bersama dalang Ki Sugito Purbocarito, dan cerita penutup Kresna Duta akan dibawakan oleh Ki Purbo Asmoro.

Rangkaian pagelaran The Bima Series merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh pecinta wayang, agar wayang kulit dapat lebih diterima dan dipahami generasi muda dan masyarakat perkotaan pada umumnya.

“Dengan menghadirkan wayang kulit di mal, kita berharap mereka dapat memahami falsafah, nilai-nilai luhur serta tuntunan yang ada dalam cerita pewayangan tersebut. Sebab wayang bukan sekedar tontonan, tapi juga tuntunan agar masyarakat kita memiliki kearifan budaya,” ujar Ki H Rohmad Hadiwijoyo, dalang dan Ketua Pepadi Jakarta, sekaligus Ketua Pengurus Harian Yayasan Lontar.

Menurut Ki Rohmad, banyak hal menarik yang  bisa dipetik dari cerita-cerita wayang. Setiap tokoh menggambarkan suatu karakter dalam kehidupan manusia, dengan rangkaian cerita yang penuh falsafah hidup dan nilai-nilai luhur yang bisa menjadi penuntun hidup.

Yayasan Lontar adalah suatu badan usaha nirlaba pemerhati permasalahan literatur kebudayaan Indonesia. Didirikan tahun 1987 oleh beberapa sastrawan besar Indonesia seperti Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono, Umar Kayam, Subagio Sastrowardoyo, serta budayawan dari Amerika Serikat John H McGlynn.

Selain pementasan wayang, Yayasan Lontar juga akan menyiapkan paket pendidikan dan ensiklopedia wayang dalam lima bahasa, yakni Perancis, Inggris, Jerman, dan Indonesia, dengan biaya sekitar Rp. 2 miliar.  Sebagian dana yang diperlukan telah disumbangkan oleh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), The World Bank, dan Bima Sena Mining & Energy Society.

Sekilas cerita Bale Segolo – golo

Kisah ini merekam intrik politik di negeri Astina pasca meninggalnya Prabu Pandu Dewonoto. Mayoritas rakyat astina, menghendaki para ksatria Pandowo untuk melanjutkan pemerintahan Astina. Maka Adipati Drestoroto sebagai care taker pemerintahan, memerintahkan Patih Sengkuni untuk merayakan pergantian pemerintahan di padang Bale Segolo – golo.

Tapi  Joko Pitono, ksatria Kurawa anak Adipati Drestoroto, tidak legowo memberikan kekuasaan ke para satria Pandawa. Ia pun berkoalisi dengan Patih Sengkuni menyusun siasat jahat untuk menggagalkan dan merebut tahta dari Pandawa. Satu-satunya cara, Bima dan saudara–saudaranya harus dibunuh. Maka Patih Sengkuni menyuruh kontraktor ahli bahan peledak yang bernama Purucona untuk mendesain tempat  perhelatan akbar tersebut dengan bahan–bahan yang gampang meledak dan mudah terbakar.

Maka ketika malam penobatan tiba, di tengah eforia dan pesta pora, kebakaran hebat melanda. Esok paginya bala Kurawa menemukan lima sosok mayat pria dan satu wanita. Mereka menyimpulkan mayat–mayat itu adalah lima bersaudara Pandawa, termasuk Raden Puntadewa yang disiapkan menjadi raja, dan Ibunda meraka Dewi Kunti. Dengan kematian Pandawa,  Kurawa  mengklaim sebagai penerus sah kepemimpinan Astina. Mereka lalu melantik Duryudana sebagai raja menggantikan Puntadewa.

Padahal Pandawa dan Kunti selamat dari amuk api, berkat campur tangan Batara Antaboga. Dewa penguasa dasar bumi ini menggagalkan konspirasi jahat Kurawa dengan menciptakan terowongan menuju perut bumi. Lima mayat yang hangus dilalap api tidak lain adalah para sudra, pengemis dan gelandangan, yang menumpang berteduh di padepokan Pandawa di Bale Segolo- golo pada malam menjelang kejadian. Kebaikan hati Kunti menolong mereka telah berbuah keselamatan bagi Pandawa dan masa depan politik mereka.

Pandawa kemudian mendapat konsesi berupa hutan Wanamarta. Di bekas hutan inilah Puntadewa dan saudara-saudaranya membangun kerajaan Pandawa. Intrik Bale Segolo-golo menjadi awal rivalitas politik berkepanjangan antara Kurawa dan Pandawa.

Satu pemikiran pada “Bale Segolo-golo, Cerita Wayang Sarat Intrik Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s