Ismanto Terlahir dari Lima Gunung

M. Hari Atmoko[ kompas.com Senin, 27 Juli 2009 | 14:20 WIB ]  Lelaki berkulit hitam itu tidak sadar memiliki kecerdasan alami berkat pergulatan kehidupannya dengan alam Gunung Merapi.  Bahkan, ketika seniman-seniman populer hilir mudik bertandang ke rumahnya, sebagai pengakuan atas keahliannya. Dia adalah Ismanto (41), pematung yang juga melukis, bermain teater dan membuat instalasi seni.  Ismanto bersama isterinya, Murtiyah (30), dengan dua anaknya, Surawan (15) dan Sekar (14), tinggal di Dusun Ngampel, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah di kawasan lereng barat Gunung Merapi yang berbatasan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebelum 2008 rumahnya yang berukuran 100 meter persegi hanyalah berdinding “gedhek”, anyaman bambu, dengan empat ruangan yang disekat dari “gedhek” pula antara lain untuk kamar tidur, ruang tamu, kamar makan, dan gudang.

“Saya juga heran banyak orang datang, mereka menyebut saya filosof, sufi, tetapi saya kira apa yang saya katakan sekadar kisah empiris,” kata Ismanto yang hanya lulus SMP itu.

Sejumlah nama disebutnya sebagai contoh mereka yang pernah datang ke rumahnya seperti Garin Nugroho, Arahmayani, Sawung Jabo, Sindhunata, Suprapto Suryodarmo dan tokoh-tokoh lain dari berbagai kota. Mereka ke rumah Ismanto itu untuk bertemu dan mengobrol soal seni budaya.

Sejak akhir 2008 ia merenovasi rumahnya, tak terlihat lagi dinding gedhek. Rumahnya kini berdinding batu bata itu terkesan artistik, di pojok rumah terdapat bangunan relatif tinggi bagaikan tempat bermenung.

Rumahnya kini terdiri atas ruang terbuka dengan sebuah “longkangan”, kamar tidur untuk dua anaknya di lantai dua, kantor manajernya, kamar tidur, dapur, kamar mandi, dan ruang makan.

Pintu rumah dari kayu jati dengan lantai dari tatanan batu andesit Merapi. Berbagai properti seni seperti patung, topeng, dan instalasi kayu bekas kandang ternak kerbau terpajang di depan rumah yang mepet dengan sebuah masjid itu.

“Tentu saja ini bagian dari karya bersama lima gunung, saya menyadari bahwa diri saya adalah salah satu yang lahir dari lima gunung,” katanya.

Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) adalah komunitas seniman petani gunung-gunung yang mengelilingi Magelang, yang sejak belasan tahun terakhir berkiprah dalam pelestarian dan pengembangan tradisi berkesenian dan kebudayaan.

Mereka menggelar Festival Lima Gunung (FLG) secara bergilir dan mandiri sebagai puncak ekstase berkesenian mereka sepanjang tahun. FLG tahun 2009 sebagai pergelaran kedelapan komunitas itu, yang berlangsung di kawasan Gunung Andong, Desa Mantran, Kecamatan Ngablak, pada Minggu (26/7).

Ia menyebut sejumlah nama yang kini menjadi pucuk pimpinan komunitas itu yang juga terlahir dari lima gunung, seperti Riyadi, Timbul, Handoko (Merbabu), Sitras Anjilin dan Waskito (Merapi), Supadi (Andong), Sumarno (Sumbing), Sucoro (Menoreh).

Pimpinan tertinggi Komunitas Lima Gunung adalah seniman Sutanto Mendut yang tinggal di Studio Mendut, sekitar tiga kilometer sebelah timur Candi Borobudur.

“Dulu rumah Ismanto itu ibaratnya bisa roboh disundul anjing, anjing bisa menyelinap masuk lewat dinding ’gedheknya’, sekarang dia sudah membangun rumahnya, sudah mapan,” kata Sutanto.

Selama 17 tahun terakhir, kata Ismanto, dunia kesenian digeluti secara serius dan menggembirakan. Beberapa bagian pekarangan di sekitar rumahnya dibeli Ismanto sebagai asetnya.

“Membuat karya harus total tidak setengah-setengah, karena karya kita itu ekspresi diri kita sendiri, di situ terpancar karakter pembuatnya,” katanya.

Berbagai pekerjaan dilakoni sebelum menemukan jalan sebagai seniman. Ia pernah menjadi buruh bangunan, pengusung batu, penjual es dan burjo, pembantu rumah tangga di Jakarta. Bahkan saat berangkat ke sekolah di SMP Santa Maria, Tumpang, Sawangan, Ismanto kerap membawa sayur panenan ladangnya untuk dijual di Pasar Sayur Sewukan, Dukun.

Ribuan karya patungnya berbagai ukuran telah dikoleksi sejumlah kolektor di beberapa kota seperti Jakarta, Surabaya, Papua, Purworejo, Yogyakarta, dan Solo.

Patung Ki Hajar Dewantara berukuran raksasa terlihat berdiri kharismatis di persimpangan salah satu jalan utama di tengah kota Yogyakarta. Patung Maria setinggi sekitar lima meter yang dibuatnya pada 2005 berdiri anggun di persimpangan jalan di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan.

Patung Raden Saleh dan sebuah patung yang diberi nama “Nun” terpasang di kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Sebuah lukisan wajah Paus Yohanes Paulus II dengan properti ratusan sidik jari di sekelilingnya tergantung di salah satu ruang Gubug Selo Merapi (GSPi), di lereng Gunung Merapi, Desa Grogol, Dukun, Magelang. Lukisan itu menandai peringatan seribu hari mangkatnya pimpinan tertinggi gereja Katolik Roma oleh umat lereng Merapi beberapa tahun lalu.

“Ada patung yang dibeli seharga Rp200 juta, beberapa patung pernah hampir mencapai satu miliar rupiah,” katanya.

Berbagai kesempatan pameran diikutinya di beberapa kota. Ismanto menang kompetisi seni bertajuk “Seribu Misteri Borobudur” diikuti 320 seniman dengan 260 karya di Yogyakarta pada 2007.

Ia mengaku hingga saat ini belum ada karya monumentalnya. “Kalau bangga, tentu saja bangga atas karya-karya saya, tetapi saya merasa belum ada yang monumental, bagi saya yang monumental itu kalau terjadi reinkarnasi atas saya,” katanya.

Ismanto sejak 17 tahun hidup dalam dunia seni budaya telah memiliki sekitar 30 murid. Mereka adalah anak-anak putus sekolah terutama berasal dari beberapa desa di sekitar Merapi yang belajar berkarya seni dan budaya dengan Ismanto.

Muridnya saat ini sebanyak enam orang yakni Anjar, Ardi, Arwanto, Supriyono, Daroji, dan Riyanto. Anjar murid terlama, sudah sekitar empat tahun terakhir nyantrik dengan dirinya sedangkan Ardi yang memiliki ijazah SMA, kini dibiayainya kuliah di Jurusan Patung ISI Yogyakarta, sambil tetap berkarya, membantu Ismanto mengerjakan patung di sanggar alamnya di Merapi.

“Mereka belajar berkarya, dialog di sini secara kekeluargaan, ada yang kini sudah mandiri, ada yang terus belajar. Anak-anak mereka yang kelak mewarisi apa yang saya lakukan selama ini, mungkin itulah karya monumental saya, saya hanya melakukan edukasi secara alami, semua yang saya lakukan kepada mereka keluar dari pikiran dan hati saya,” katanya.

Nama Ismanto tentu saja tidak asing di mata KLG. Berbagai pergelaran seni dan budaya yang diselenggarakan komunitas itu tidak lepas dari sentuhannya.

Ia menyatakan berguru kepada siapa saja, termasuk berguru melalui pergaulan dengan Sutanto dan berkiprah di KLG.

“Dia sudah menemukan jalan dan pamornya,” kata Sutanto yang juga pengelola Studio Mendut itu.

Ismanto, katanya, hanyalah salah satu di antara banyak sosok KLG yang namanya mencuat karena bakat alami melalui karya seni dan pengembangan tradisi budaya lima gunung.

Setiap orang, katanya, pasti memiliki bakat kecerdasan dengan gradasi tersendiri.

“Anakku masuk seminari tahun ini, mencari sendiri jalan panggilan hidupnya,” kata Ismanto bangga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s