Borobudur Contoh Salah Urus Warisan Budaya

[ kompas.com Selasa, 11 Agustus 2009 | 19:02 WIB ]  PURBALINGGA – Candi Borobudur merupakan contoh salah urus warisan budaya baik dalam pengelolaan pelestariannya maupun pemanfaatannya sebagai objek wisata. Itulah yang menyebabkan konflik antara masyarakat sekitarnya dengan pengelola Candi Borobudur tak pernah usai.

Menurut ahli arkeologi publik Bambang Sulistyanto dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, pengelolaan Candi Borobudur masih menerapkan pandangan konservatif yang menerapkan warisan budaya sebagai sesuatu yang ekslusif dan hanya pemerintah yang berhak mengelola.

Sementara saat ini dalam arkeologi global, lanjutnya, telah berkembang luas paradigma baru bahwa pengelolaan warisan budaya harus menged pankan peran serta masyarakat.

“Dalam pandangan saya sebagai arkeologi publik pun, warisan budaya memiliki kedudukan yang sama dengan sumber daya lain yang ada di masyarakat. Karena itu, warisan budaya tidak lagi ditempatkan sebagai sesuatu yang ekslusif, dan bukan pula milik arkeolog maupun antropolog,” jelas Bambang, di sela-sela Lokakarya Menggali Potensi Geologi dan Arkeologi Purbalingga untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat, di Kabupaten Purbalingga, Selasa (11/8).

Oleh karena itu, dia mengatakan, sudah saatnya bagi pemerintah untuk segera mengubah pandangannya terkait pelestarian warisan budaya yang selama ini kurang memberdayakan masyarakat setempat. Hal itu pula yang sebaiknya segera dilaksanakan untuk menyelesaikan konflik masyarakat dengan pengelola Candi Borobudur.

“Candi Borobudur harus segera direhabilitasi. Sebab saat pertama kali candi itu dikonservasi, peran serta masyarakat setempat menjaga kelestarian Candi Borobudur sudah berjalan baik,” katanya.

Peneliti utama Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Prof Harry Truman Simanjuntak pun mengatakan, pemerintah bukan lah segalanya dalam menjaga kelestarian warisan budaya. Sebaliknya, kunci kelestarian warisan budaya berada di masyarakat pendukungnya itu sendiri.

Untuk itu pemerintah tidak perlu memberikan penyeluhan terus menerus, melainkan cukup memberikan contoh nyata yakni membuka peluang bagi masyarakat untuk ikut serta melestarikan warisan budaya yang ada di daerahnya. “Masyarakat pasti mengerti kalau diberi pemahaman. Dalam hal ini tentu tetap ada ekses-ekses lain, tapi setidaknya dapat dieliminir dengan pemberian pemahaman yang baik,” jelas Truman.

Begitu juga konservasi Situs Trowulan, dikatakan Bambang, masih sarat dengan pengaruh birokrasi. Hal itu menyebabkan timbulnya kekeliruan dalam penggunaan terminologi rehabilitasi dalam upaya pemerintah setempat mengonservasi situs itu.

“Tak mungkin Trowulan direhabilitasi, karena situs itu memang sudah rusak. Kalau pemerintah setempat berusaha merehabilitasinya, itu akan mengubah konteks Trowulan yang memang rusak sejak awal,” jelasnya.

5 pemikiran pada “Borobudur Contoh Salah Urus Warisan Budaya

  1. yaya berkata:

    Hello,
    We are Master students of National Taiwan University of Science and Technology.
    We are doing a research about Heritage in Yogyakarta, center of Java. We choose Borobudur and Prambanan to survey how heritage impacted or merged in tourism sites in Indonesia.
    And we really need your opinions about those two heritages so we could try our best to improve the tourism in heritage sites. Please help us fill the survey form.
    Thank you for your help!!  Thank you very much!!!
    My e-mail: yaya24682006@yahoo.com.tw

    The Survey Form address:
    http://www.smart-survey.co.uk/v.asp?i=14289fwmcp

    Best regards.

    All of Students of Graduate Institute of Architecture and Historic Preservation.

  2. kondisi borobudur saat ini yang di kelola oleh sebuah badan pengelola meskipun komersil saya pandang lebih baik dari pada di serahkan ke pemerintah atau masyarakat. karena kredibilitas pemerintah dalam mengelola sesuatu masih diragukan. apalagi di serahkan ke masyarakat .bisa jadi lebih liar karena banyak yang sak karepe dhewek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s