Pendapatan Pengemis Capai Jutaan Tiap Bulan

Moh Hartono [ detiksurabaya.com kamis, 20/08/2009 12:54 WIB] Sumenep – Siapa sangka jika pendapatan pengemis itu jauh lebih besar dari gaji seorang pegawai negeri sipil (Sipil) yang hanya menjadi seorang staf di pemerintahan.  Setiap pengemis asal Desa Pragaan Daya Kecamatan Pragaan Sumenep mampu mengumpulkan rezeki dari meminta-minta itu hingga pada kisaran Rp1,5 juta sampai Rp 2,5 juta setiap bulan.

Bahkan, para pengemis yang beraksi di luar Pulau Garam Madura terutama di Kalimantan dan Batam, justru pendapatannya bisa mencapai lebih Rp3 juta tiap bulan.

Namun modus aksi para pengemis itu dikemas dalam bentuk membawa proposal atas nama lembaga setempat, semisal masjid, musalla maupun lembaga pendidikan.

Sekretaris Forum Sekretaris desa (Sekdes) se-Kabupaten Sumenep, Subairi mengatakan, warga Desa Pragaan Daya itu tidak hanya mengemis dengan cara datang ke rumah-rumah warga maupun perkantoran dengan cara tradisional, melainkan ada yang membawa proposal atas nama lembaga tertentu.

“Modusnya, mereka itu mendapatkan fee sebesar 60 persen dari dana yang dihasilkan atas nama lembaga itu,” terang Subairi kepada detiksurabaya.com dihubungi via telepon, Kamis (20/8/2009).

Dari hasil fee itu, kata dia, setiap orang bisa menghasilkan sampai Rp 3 juta lebih. Dana yang didapat itu ada yang digunakan untuk membiayai anaknya sekolah, baik di tingkat SMA maupun di perguruan tinggi.

Sementara salah seorang pengemis asal Desa/Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, Mansur (57) mengatakan, hanya dengan mengemis bisa mendapatkan penghasilan setiap hari.

“Setiap harinya, saya mendapatkan uang Rp 50 ribu.. Tapi, kalau awal bulan bisa mencapai antara Rp150 ribu sampai Rp 200 ribu dalam 1×24 jam,” terang Mansur kepada detiksurabaya.com ditemui di lokasi perkantoran Pemkab Sumenep, Jalan dr Cipto.

Hasil meminta-minta tersebut selain untuk menghidupi keluarganya juga untuk ditabung. Sedangkan profesi pengemis disandang sejak 3 tahun lalu seiring dengan tidak ada larangan dari pemerintah dan kesuksesan yang diraih oleh warga Desa Pragaan Daya.

“Tidak ada larangan kok, kenapa saya harus berhenti jadi pengemis. Ikut warga Pragaan Daya kan tidak apa-apa biar ikut sukses,” pungkasnya.

Berbeda dengan Mohammad (58) warga Desa Jaddung, Kecamatan Pragaan, Sumenep yang mengemis hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

“Saya memang tidak mempunyai lahan pertanian dan pekerjaan, sehingga harus mengemis,” kata Mohammad kepada detiksurabaya.com ditemui di depan Toko Swalayan Elmalik, Jalan Panglima Sudirman, Sumenep.

Sementara data yang dikeluarkan Sekretaris Desa Pragaan Daya, Kecamatan Pragaan Sumenep, Moh Haruji Saleh, jumlah pemuda yang menuntaskan sekolah tinggi hingga Strata satu (S-1) mencapai 200 orang. Sedangkan S2 baru 2 orang dan dalam proses penyelesaian tesis S-2 sebanyak 2 orang.

Untuk lulusan SMA setiap tahunnya berkisar antara 200 orang sampai 300-an orang setiap tahunnya. “Tapi maaf saya tidak bisa memberi identitas lengkap mereka,” terang Haruji.  (fat/fat)

2 pemikiran pada “Pendapatan Pengemis Capai Jutaan Tiap Bulan

  1. ea Lesil berkata:

    Saya jadi ingat dulu (sekitar tahun 1997) pernah satu teman saya yang tinggal di Bogor dan bekerja di jakarta yang selalu naik kereta dalam menempuh perjalanannya hampir selalu memberi sedekah pada pengemis yang tiap hari ada di kereta itu.
    Sampai suatu hari dia mendengar pembicaraan 2 orang pengemis yang sering diberinya itu dalam perjalanan pulangnya ke Bogor, “Dapet berapa hari ini?” yang satu bertanya.
    “Ah rada sepi, 50 rebu”, jawab yang ditanya.
    “Emang biasa berapa?”
    “Biasanya 75, kalo’ lagi banyak mah bisa 125”.
    Mendengar percakapan ini, teman saya langsung meradang karena ternyata setelah menghitung2 Rp. 50.000 x 30 hari = Rp 1.500.000,- biasanya malah Rp. 75.000 X 30 = Rp. 2.250.000,- kalo’ banyak Rp. 125.000 x 30 = Rp. 3.750.000,-
    dan waktu itu kalau ngga salah gaji pokok dari pekerjaannya cuman Rp 750.000,-, Setengah dari pendapatan sepi si pengemis.

    Saya ingat banget dia cerita dengan berapi2 dan marah2 sepanjang menelpon dan berniat ngga mau lagi ngasi2 pengemis2 itu.
    “…Gila ngga, sih… pas sepi aja dapetnya udah dua kali gaji gue? Bikin marah ngga sih? Gue kerja setengah mati dari Bogor – Jakarta – Bogor, tiap hari, pake dimarah2in Boss segala, dapetnya ngga seberapa, eh dia cuman duduk minta doang, bekal baju lusuh doang ngga perlu dandan, ngga perlu segala apa, malah dapetnya lebih gede dari gue? Gue ngga bakalan mau lagi ngasi2 ke pengemis kalo’ gitu, mending sedekah ke tempat2 yang dah pasti2 aja deh…“.

    Mungkin benar juga, ya, jika salah satu caranya kita memulai bersama dengan tidak memberi kepada para pengemis yang berkeliaran di jalan yang padahal sebenarnya masih mampu bekerja, mungkin perlahan-lahan mereka akan ogah mengemis lagi karena ngga mendapatkan apa-apa dari mengemis dan mulai mencari pekerjaan lain?
    Kalaupun mau bersedekah, salurkan ke tempat-tempat Badan Amal yang bisa dipercaya, yang sudah pasti penyalurannya. Atau berikan pada orang2 yang kita tahu memang benar2 membutuhkan atau memang layak mendapatkannya. Di sisi lain musti dicari cara lain untuk mengalokasikan tenaga2 pengangguran yang begitu banyak sehingga mereka bisa mendapatkan penghasilan yang layak dengan cara yang layak pula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s