Konvensi Adat Serdang Diluncurkan

[ kompas.com  Senin, 27 Juli 2009 | 18:07 WIB ]  MEDAN,  Kesultanan Serdang yang terletak di wilayah Sumatera Utara (Kabupaten Deli Serdang dan Serdang Bedagai) meluncurkan buku konvensi adat budaya Melayu Serdang. Konvensi adat yang pertama kali diterbit kan ini diluncurkan dalam acara Perhelatan Agung ke-2 Adat Kesultanan Negeri Serdang di Medan, Senin (27/7) malam. “Kami meluncurkan buku ini untuk menyelamatkan aset budaya Melayu Serdang. Semua hasil konvensi adat kami daftarkan untuk mendapat pengesahan dari Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia,” tutur Kepala Adat Kesultanan Serdang, Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, saat ditemui.

Buku berjudul Mahkota Adat dan Budaya Melayu Serdang ini merupakan hasil konvensi sejarah, adat, dan Kesultanan Serdang yang digelar di Perbaungan Juli ini. Buku ini memuat kekayaan budaya Melayu Serdang dalam bidang pertanian, peternakan, pendidikan, perkebunan, keagamaan, kesehatan, pariwisata, cerita rakyat, pakaian adat, kuliner, ornamen, dan hasil seni budaya lain.

“Kami ingin menyelamatkan kekayaan budaya ini. Sebagian kekayaan budaya ini sudah ditiru oleh orang lain,” katanya.  Buku ini diterbitkan oleh Kesultanan Serdang dengan tebal 279 halaman.

Adapun perhelatan agung digelar kesultanan dengan tema Adat Budaya Kreatir Kesultanan Negeri Serdang Sebagai Basis Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia. Acara ini dihadiri seluruh penghulu dan ketua adat kesultanan. Luckman Sinar mengatakan acara seperti ini merupakan acara langka yang pernah digelar Kesultanan Serdang.

Kesultanan Serdang merupakan salah satu kesultanan yang ada di Sumatera Timur. Pada masa kemerdekaan, Serdang menyatakan dukungannya kepada Pemerintah RI. Istana Kesultanan Serdang selamat dari revolusi sosial yang terjadi pada Maret 1946. Sejumlah istana kerajaan di pantai timur Sumatera terbakar saat revolusi ini terjadi. Istana baru terbakar saat agresi militer Belanda pertama pada 28 Juli 1947. Belanda ingin mengepung Medan dengan masuk melalui Serdang, kata Luckman Sinar.

Pengaruh

Antropolog Universitas Negeri Medan (Unimed), Usman Pelly mengatakan disadari atau tidak ada rebutan pengaruh di antara kesultanan di Sumatra Timur. Kesultanan Serdang dan kelompok Kesultanan Deli, Langkat, serta Asahan yang ingin tampil sebagai penjaga budaya Melayu Sumatra Timur. “Posisi kesultanan seharusnya memang menjadi penjaga adat budaya,” katanya.

Kesultanan Serdang merasa lebih menjadi orang republik ketimbang kesultanan lain di pesisir timur Sumatera. Hal ini tidak lepas dari latar belakang sejarah yang menyebut bahwa Kesultanan Serdang paling awal mendukung terbentuknya Pemerintah RI. “Mereka lebih awal menyatakan berada di belakang Bung Karno daripada kesultanan lain. Karena itu, banyak prajurit TNI (Melayu) yang berasal dari Kesultanan Serdang,” tuturnya.  (  NDY )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s