Apa itu Agropolitan… ?

Apa itu Agropolitan… ?

oleh : Nazaruddin Margolang, S.IP.,M.Si

Urbanisasi sepertinya merupakan suatu hal yang secara logis bakal terjadi. Sebab sudah sewajarnyalah manusia akan mencari lingkungan hidup yang dapat memfasilitasi kebutuhannya, dan hal itu kenyataannya akan dapat diperoleh dengan mudah di wilayah perkotaan. Maka jadilah desa semakin hari menjadi tidak menarik dan banyak ditinggalkan. Muncullah konsep Agropolitan yang mejanjikan desa memiliki fasilitas perkotaan, namun masih bernuansa pertanian. Pertanyaannya adalah, apa sesungguhnya agropolitan tersebut ?. Beberapa pendapat tentang agropolitan dapat dikemukakan sebagai berikut :

http://www.deptan.go.id : AGROPOLITAN (Agro = pertanian : Politan = kota) adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang yang mampu memacu berkembangnya sistem & usaha agribisnis sehingga dapat melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya.

  • KAWASAN AGROPOLITAN, terdiri dari Kota Pertanian dan Desa-Desa sentra produksi pertanian yang ada di sekitarnya, dengan batasan yang tidak ditentukan oleh batasan administrasi Pemerintahan, tetapi lebih ditentukan dengan memperhatikan skala ekonomi yang ada. Dengan kata lain Kawasan Agropolitan adalah Kawasan Agribisnis yang memiliki fasilitas perkotaan.
  • PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN, adalah pembangunan ekonomi berbasis pertanian di kawasan agribisnis, yang dirancang dan dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berbasis kerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi, yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh Pemerintah.

Ini berarti Bila dilihat dari kata Agropolitan, maka Agropolitan terdiri dari kata Agro (pertanian) dan kata Politan (polis = kota), sehingga agropolitan dapat diartikan sebagai kota pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis serta mampu melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya. Kawasan agropolitan terdiri dari kota pertanian dan desa-desa sentra produksi pertanian yang ada disekitarnya, dimana kawasan pertanian tersebut memiliki fasilitas seperti layaknya perkotaan.

BAPPEDA Cianjur menulis bahwa sebagai suatu konsep pembangunan, pengembangan kawasan agropolitan merupakan salah satu upaya mempercepat pembangunan perdesaan dan pertanian, dimana kota sebagai pusat kawasan dengan ketersediaan sumberdayanya, tumbuh dan berkembang dengan membuka kemudahan dalam melayani, mendorong dan menghela usaha agribisnis di desa-desa hinterland dan desa-desa sekitarnya. Keterkaitan dalam sistem dan usaha agribisnis antara kota dan desa tersebut juga dimaksudkan untuk mempercepat pembangunan ekonomi daerah dan mengurangi kesenjangan pendapatan antar masyarakat di kawasan agropolitan. Untuk dapat merealisasikan tujuan tersebut, diperlukan langkah terobosan berupa program pengembangan kawasan agropolitan, yang mana program ini perlu melibatkan berbagai pihak (stakeholder) yang bekerjasama secara terkoordinasi, terarah dan berkelanjutan.

http://www.tulungagung.go.id : Agropolitan pada dasarnya sebuah gerakan untuk kembali membangun desa. Desa yang baik idealnya harus bisa menjadi suatu tempat yang nyaman, bermartabat dan mensejahterakan masyarakatnya. Jangan beranggapan desa yang maju itu harus menjadi kota. Akan tetapi menjadikan desa itu menjadi tempat yang layak. Sebenarnya hal inilah yang melahirkan ide agropolitan.

Konsep agrpolitan ini basisnya pada membangun fungsi kota pertanian dalam artian luas. Dimana pertanian itu tidak dilihat dari sisi bercocok tanam dan mencangkul saja.

Di dalam kawasan agropolitan harus terdapat sektor industri, jasa, pariwisata, dan sebagainya, namun basisnya pertanian dalam arti yang luas.

http://ciptakarya.pu.go.id : Penyediaan Prasarana dan Sarana Kawasan Agropolitan, Kawasan agropolitan adalah kawasan pertanian yang terdiri dari kota Pertanian, desa-desa sentra produksi pertanian dan desa peyangga yang ada di sekitarnya, yang memiliki fasilitas untuk berkembangnya pertanian industri.

Sebaiknya kawasan pertanian yang dipilih adalah kawasan pertanian yang sudah ditumbuhkembangkan oleh pemerintah daerah dan Departemen Pertanian. Kawasan tersebut antara lain Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan (KIMBUN), Kawasan Peternakan, Kawasan Hortikultura atau Kawasan Tanaman Pangan. Program untuk kawasan yang akan dikembangkan menjadi kawasan agropolitan dilakukan melalui kerjasama dengan masyarakat, swasta serta kerjasama lintas sektoral dan lintas pusat dan daerah yang diorganisasikan oleh manajemen yang efisien, dan harus menjadi komitmen dari pemerintah daerah (Bupati/ Walikota, DPRD, masyarakat setempat). Untuk berkembangnya kawasan pertanian menjadi kawasan pertanian industri maka kawasan desa sentra produksi pertanian dan kota pertanian yang ada dikawasannya, harus dirancang agar memiliki fasilitasi perkotaan, lembaga pendidikan, lembaga penyuluhan dan alih teknologi pertanian, lembaga kesehatan, jaringan jalan, irigasi, transportasi, telekomunikasi serta prasarana dan sarana umum lainnya.

Pada kawasan ini peranan masyarakat cukup dominan dan berperan aktif dalam pembangunan kesejahteraannya, sedangkan peranan pemerintah bersifat memberikan fasilitasi, memberikan dukungan iklim kondusif dan pembuatan peraturan perundang-undangan untuk berkembangnya dinamika pembangunan dan melindungi eksistensi program. Masyarakat disodorkan agar berperilaku selalu berorientasi bahwa produk yang dihasilkan adalah produk untuk selanjutnya dipasok ke proses industri. Kebijakan untuk mewujudkan pertanian industri ini perlu dilakukan secara konsisten, terarah dan transparan. Tanpa adanya perlindungan dari pemerintah eksistensi kawasan agropolitan sulit untuk ditegakkan, bertahan dan berlanjut.

http://nagaisori.com/uncategorized/apa-itu-agropolitan.html

Iklan

Penerapan Agropolitan

PENERAPAN AGROPOLITAN DAN AGRIBISNIS DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH

The Application of The Agropolitant and Agribusiness In Regional Economy Development

H.A. Husainie Syahrani

Sudah saatnya pembangunan ekonomi daerah yang menyangkut sebagian besar kepentingan ekonomi rakyat banyak tidak berhenti pada retorika saja, melainkan harus sesegera mungkin diwujudkan dalam aksi nyata dan dukungan kebijaksanaan makro ekonomi. Hal ini antara lain diwujudkan melalui penerapan konsep pengembangan agropolitan dan agribisnis dalam pembangunan ekonomi daerah atau pengembangan ekonomi lokal.

Setelah era reformasi, telah terungkap bahwa pembangunan ekonomi yang sentralistis (top-down) membawa akibat terjadinya disparitas ekonomi yang sangat mengkhawatirkan bagi bangsa dan negara kita. Pada masa lalu, kebijakan pembangunan yang top-down, dimana pemerintah pusat cenderung terlalu banyak turut campur tangan terhadap kegiatan-kegiatan ekonomi di daerah.

Hal tersebut mengakibatkan rapuhnya perekonomian nasional dan parahnya disparitas ekonomi antar daerah dan golongan masyarakat, karena tidak berakar kuat pada ekonomi daerah.

Oleh karena itu, dengan diberlakukannya Konsep Otonomi Daerah dengan kebijakan pembangunan ekonomi yang bottom-up, sektor-sektor ekonomi yang dikembangkan disetiap daerah harus dapat mendayagunakan sumber daya yang terdapat atau dikuasi oleh masyarakat di daerah tersebut. Cara yang paling efektif untuk mengembangkan perekonomian daerah adalah melalui pengembangan agribisnis. Pengembangan agribisnis bukan hanya pengembangan pertanian primer (on farm agribusiness) tetapi juga mencakup industri-industri yang menghasilkan sarana produksi (up stream agribusiness) dan industri-industri yang mengolah hasil pertanian primer dan kegiatan perdagangannya (down stream agribusiness).

Pengembangan agribisnis di setiap daerah harus juga disertai dengan pengembangan organisasi ekonomi, melalui pengembangan koperasi agribisnis yang ikut mengelola up¬stream agribusiness dan down-stream agribusiness melalui usaha patungan (joint venture) dengan BUMN/BUMD. Dengan demikian perekonomian daerah akan mampu berkembang lebih cepat dan sebagian besar nilai tambah agribisnis akan tertahan di daerah dan pendapatan rakyat akan meningkat. Apabila hal tersebut terwujud akan mampu menghambat arus urbanisasi bahkan justru mendorong ruralisasi sumber daya manusia.

SELENGKAPNYA DALAM FORMAT ………..PDF

Pengembangan Agropolitan

Peranan Investasi Mengembangkan Kawasan Agropolitan Berbasis Komoditas

Dalam pengembangan kawasan agropolitan terdapat 3 hal penting yang menjadi syarat agar konsep pengembangan kawasan agropolitan dapat diwujudkan :

1. Investasi dalam Bidang Agro Industri

Kawasan atau daerah yang disebut sebagai daerah Agropolitas dan Agropolitan yang berbasis komoditas unggulan adalah suatu daerah yang bertumpu dari hasil pertanian dan memiliki komoditas unggulan. Daerah tersebut tidak saja menjadi pemasok dari komoditas unggulan yang dihasilkan, tetapi juga menghasilkan sesuatu produk olahan dari produksi pertanian yang siap dipasarkan dan menjadi ciri khas daerahnya.

Contoh daerah-daerah yang memiliki komoditas unggulan seperti sekarang ini, yaitu: Sumatera Utara dengan komoditas unggulan yang dimiliki Markisa. Buah Markisa yang dihasilkan oleh para petani saat ini telah diolah menjadi suatu produk jadi berupa Sirup Markisa. Keunggulan produk yang dihasilkan dari industri yang mengolah komoditas unggulan tersebut akan memberikan nilai tambah yang sangat besar karena barang-barang yang dihasilkan mempunyai nilai jual yang stabil dibandingkan produk perkebunan atau pertanian. Di samping itu bagi masyarakat petani mendapatkan suatu jaminan pembelian bagi produk pertanian yang dihasilkan.

Mengapa saya katakan bahwa industri produk olahan (jadi) adalah jaminan suatu stabilitas harga? karena di pasaran kita tidak akan menjumpai barang-barang yang telah diproduksi dan menjadi barang siap dikonsumsi oleh masyarakat mengalami “fluktuasi” harga. Contoh : Sambal Botol atau Saus Tomat, komoditi ini dipasaran tidak pernah kita lihat harganya turun – kecenderungan stabil dan hampir setiap tahun ada kenaikan harga. Di sisi lain kalau kita melihat produksi Cabe atau Tomat di pasaran bebas, harganya sangat fluktuatif tergantung suplainya.

Pada saat suplai tomat di pasaran berkurang maka harga tomat bisa naik dan pada saat komoditi tomat membanjiri pasaran mengakibatkan harga tomat tersebut turun, berakibat pendapatan yang diperoleh petani dari penjulan tomat menurun. Tidak jarang harga jual tersebut belum dapat menutupi biaya produksi sehingga petani selalu mengalami kerugian dari hasil pertanian mereka.

Di pasar-pasar lokal yang ada, jarang dijumpai stabilitas harga dari komoditi hasil pertanian yang mentah, namun di satu sisi untuk hasil industri pertanian dari hasil komoditas yang sama yang telah diproduksi menjadi barang jadi, cenderung stabil walaupun harga tomat di pasaran tinggi, harga saus tomat harganya tetap. Kalaupun harga tomat itu hancur atau rendah sekali, harga saus tomat akan tetap (fix).

Di sini keunggulan dari suatu industri sangat berperan penting, itu sebabnya saya melihat di beberapa daerah pemasok khususnya di kawasan-kawasan sentra industri komoditas pertanian, masyarakat petani setempat tidak mengalami suatu perbaikan yang signifikan di dalam usaha mereka. Walaupun kita dikenal oleh seluruh negara di dunia adalah negara agraris yang sangat subur lahan pertaniannya, tetapi kita jarang sekali menjumpai petani-petani yang kaya. Karena petani kota ini hanya diminta untuk menanam bertani satu komoditas tertentu dan kemudian daerah pertanian tersebut tidak ada industri yang menjamin pembelian dari produk tersebut. Sehingga kecenderungannya adalah para petani akan dipermainkan oleh arus pasar dan kalau kita berbicara komoditas yang berbasis kepada pasar bebas maka tidak jarang petanilah akan selalu di pihak yang kalah.

Untuk itu kawasan agropolitan yang dicanangkan oleh pemerintah, ada satu hal yang sangat penting agar kawasan tersebut dikenal sebagai kawasan agropolitan, pertama-tama adalah bahwa di kawasan tersebut haruslah dibangun industri produk jadi yang berbasis pada komoditi unggulan agar supaya produk tersebut tidak akan menjadi suatu komoditi yang bisa dipermainkan oleh pasar. Dengan demikian harga akan memberikan kontribusi sangat baik kepada petani dan akan terjadi satu kerjasama yang baik antar petani dan industri, di mana semua petani akan mengembangkan tanaman atau komoditi yang dibutuhkan oleh industri dan kemudian industri itu akan mendapat jaminan suplai dari para petani komoditas yang mereka butuhkan.

Kedua belah pihak harus bisa berkerjasama sehingga akan menghasilkan suatu produk yang benar-benar mempunyai nilai tambah untuk kedua belah pihak. Pihak petani akan diuntungkan dengan stabilitas harga dari komoditi tersebut, kemudian pihak industri akan mendapat jaminan suplai dari raw material atau bahan baku yang dibutuhkan untuk industrinya. Dengan demikian akan timbul satu sinergi yang sangat baik antara petani dan industri yang ada di daerah tersebut.

Seperti halnya tadi yang digambarkan yaitu Markisa sudah mempunyai satu industri minuman markisa walaupun dalam bentuk sirup, tapi itu semua diambil dan diproduksi dari lahan pertanian petani yang ada di kawasan Sumatera Utara. Markisa ini kemudian mulai diperkenalkan kepada daerah-daerah yang kemudian kawasan tersebut akan dikenal dari komoditas unggulan tertentu.

2. Promosi Produk Unggulan

Promosi produk unggulan dari suatu kawasan akan menentukan keberhasilan pengembangan daerah agropolitan yang bersangkutan. Apa yang saya uraikan pada butir pertama tentang promosi produk unggulan dari kawasan tersebut adalah salah satu bentuk promosi yang akan berjalan dengan sendirinya pada saat produk itu memasuki pasaran. Salah satu contoh yang saya angkat pada butir pertama adalah komoditas yang dihasilkan oleh daerah tersebut.

Setelah komoditas itu diolah dan diproduksi menjadi barang jadi maka dengan sendirinya pihak industri akan mempromosikan produknya ke pasaran nasional maupun internasional, dari promosi tersebut akan terlihat komoditi tersebut berasal dari daerah mana, di sini salah satu letak keunggulan dari kota atau kawasan agropolitan yang berbasis komoditi unggulan. Contoh : promosi dari produk yang dihasilkan seperti yang saya angkat dalam pembahasan kali ini yaitu Markisa. Orang-orang nanti akan mengenal Markisa yang dari Sumatera Utara atau dari Brastagi, di mana produk tersebut akan menjadi salah satu produk unggulan. Promosi akan dikembangkan oleh produk itu sendiri dan akan berjalan secara otomatis mempromosikan kawasan yang bersangkutan.

Ada beberapa contoh yang kita lihat, kawasan atau daerah akan menjadi dikenal dari produknya, seperti contoh Dodol Garut. Kota Garut itu tidak banyak dikenal orang tapi dari produk makanannya kemudian labelisasi yang diberikan, ditempelkan pada suatu produk yang mencantumkan nama daerah asalnya, akhirnya orang mulai terbiasa menyebut Dodol Garut dan sadar atau tidak sadar kawasan tersebut mulai dikenal dengan makanannya yang lebih dahulu dikenal oleh masyarakat.

Mungkin orang Surabaya tidak pernah ke Garut, tidak mengenal Garut tapi dengan makanan yang mereka nikmati, Dodol Garut, orang akan mulai mengenal di mana daerah penghasil dodol yaitu Garut, inilah salah satu keunggulan dari industri.

Kawasan agropolitan berbasis industri akan dengan sendirinya terpromosi karena produknya sendiri, misalnya dulu ada Salak Pondoh, orang tidak kenal Pondoh itu dimana, tetapi melalui komoditas pertanian yang merupakan komoditas unggulan dari daerah yang bersangkutan. Masyarakat nasional akan mulai melihat Salak Pondoh, orang akan mulai mencari tahu di mana asal dari Salak Pondoh ini, kemudian baru mereka mulai mengenal Sleman atau Muntilan. Keduanya di DI. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Jawa, Kota Pondoh, dan tempat-tempat yang memiliki komoditas unggulan akan dikenal karena asal dari komoditas unggulannya. Ini yang ingin kita lihat bersama bagaimana peran komoditas unggulan untuk menjadi dikenal dan kemudian kawasan-kawasan inilah yang akan dikenal menjadi daerah agropolitan yang berbasis komoditi unggulan.

Tujuan dari semua ini, supaya masyarakat petani agar lebih giat untuk menanami atau menghasilkan komoditi tertentu, dengan demikian daerah atau komoditasnya akan menjadi satu produk nasional. Seperti kita lihat, durian yang besar, Durian Bangkok, Jambu Bangkok, mungkin orang tidak pernah ke Bangkok tapi mereka dengan begitu mudah menyebut nama kota di Thailand itu melalui komoditas produk hasil pertanian dari negara tersebut.

Dulu kita mengenal Lemon Cina, kita belum pernah ke Cina tapi nama dari negara tersebut yang menghasilkan komoditi ini dengan mudah orang menyebutnya. Kawasan agropolitan yang sedang dirintis oleh pihak pemerintah melalui instansi terkait inilah yang diharapkan dapat memperkenalkan daerah-daerah tertentu yang kemudian akan menjadi daerah tujuan wisata atau agrowisata melalui suatu komoditas unggulan yang benar-benar dihasilkan oleh daerah yang bersangkutan.

Ini salah satu “Multi Player Effect” atau nilai tambah dari salah satu komoditas unggulan yang diproduksi oleh daerah tersebut yang dipromosikan oleh industri yang menghasilkan nilai tambah kepada kawasan, sehingga daerah tersebut yang semula tidak dikenal, akan menjadi terkenal, dikenal dan terlihat melalui komoditas unggulan dari daerah tersebut. Dengan demikian akan tercipta satu sinergi dari suatu promosi yang sangat baik akan menjadikan daerah tersebut menjadi daerah tujuan wisata karena hasil komoditas yang ada di daerahnya ke tingkat nasional atau mungkin menjadi go internasional.

3. Pengelolaan Agrikultura dan Industri Yang Berkesinambungan

Pengelolaan agrikultura dan industri yang berkesinambungan akan menghasilkan kesejahteraan bagi masyarakat petani. Ini salah satu contoh yang perlu saya kemukakan pada kesempatan ini, dan sekaligus dapat dijadikan perhatian kita bersama yaitu pengelolaan agrikultura dan industri yang berkesinambungan akan lebih menghasilkan kesejahteraan bagi masyarakat petani. Agrikultura dan industri yang saling berkesinambungan, adalah di mana ada industri yang dibangun pada daerah-daerah sentra produksi suatu komoditi dalam kawasan tersebut.

Dalam kawasan yang dicanangkan oleh pemerintah sebagai kawasan agropolitan dibangun sebuah industri yang menggunakan bahan baku atau raw material dari produk pertanian yang ada di daerah tersebut akan menjadi satu daerah yang penghasilannya berkesinambungan dengan produk itu sendiri dan masyarakat petani akan menikmati kesejahteraan sebagai dampak pembangunan. Kesejahteraan yang diangkat dari hasil produksi pertanian mereka yang diserap oleh industri tersebut disinilah satu kota atau suatu kawasan agropolitan akan dikenal, karena komoditas produk unggulan dari kawasan itu sendiri.

Di samping kesejahteraan petani, apabila semua itu dapat tercipta pada akhirnya akan berimbas pada : (i) pembayaran pajak pendapatan yang semakin baik, (ii) PAD yang akan meningkat; serta (iii) mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang lebih baik, sehingga akan menjadikan kawasan/daerah tersebut merupakan satu kawasan yang tingkat prosperity atau kesejahteraannya menjadi lebih baik.

Hal ini hanya bisa terjadi kalau kesinambungan antara hasil pertanian yang diolah oleh industri dan kemudian pemasaran produk jadi (siap pakai) dapat masuk ke pasaran nasional maupun internasional, akibat terciptanya suatu kesinambungan atau suatu sinergi yang baik antara supply dan demand. Inilah yang sebenarnya diharapkan oleh pemerintah agar supaya daerah kawasan agropolitan ini bisa menyeluruh ke semua propinsi yang ada, ke semua daerah yang ada di Indonesia agar suatu saat nanti daerah-daerah yang ada di Indonesia bukan daerah yang terbelakang tetapi menjadi daerah maju dengan komoditas unggulan yang akan saling bersaing secara sehat untuk menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat petani dan industri.

Dengan demikian masyarakat petani kita akan mengembangkan pola pertanian yang berbasis kepada industri yang nantinya akan menjadikan setiap daerah, setiap kabupaten, setiap propinsi, sampai ke setiap kota kecamatan mempunyai industri komoditi unggulan dari daerah-daerah masing-masing yang akan berbicara dan mampu berbicara di dalam forum nasional maupun internasional.

Dari ketiga hal tersebut saya ingin menyampaikan kepada pemerintah untuk terciptanya suatu kawasan industri atau suatu kawasan agropolitan yang berbasis kepada komoditas unggulan hanya bisa berjalan apabila prasarana dan sarana sebagai persyaratan suatu industri itu dapat dipenuhi oleh pemerintah antara lain sumber daya energi listrik, karena bila berbicara industri kita berbicara membutuhkan sumber daya energi yang tidak sedikit.

Sekarang ini kita melihat masalah yang kita hadapi pertama adalah masalah energi, masalah sumber daya energi listrik yang belum tersedia di daerah-daerah penghasil komoditas unggulan. Terbatasnya sumber energi listrik ini bisa berakibat persoalan yang dihadapi industri akan mengalami permasalahan yang serius.

Kedua bantuan atau perhatian pemerintah terhadap permodalan untuk industri. Contoh bahwa apa yang telah dibangun oleh perusahaan kami di Kecamatan Modoinding yaitu perkebunan Kentang dan Wortel sampai saat ini usaha tersebut berjalan, pabrik telah dibangun namun bantuan dari pihak per-bank-kan untuk membangun industri ini belum kunjung datang padahal ini yang sangat penting untuk mengangkat satu industri di kawasan tersebut untuk mensejahterakan masyarakat petani, saat ini perhatian per-bank-kan yang ada belum seluruhnya tercurah pada program pemerintah yang sekarang ini sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan di kawasan daerah-daerah sentra produksi pertanian untuk menjadi komoditi unggulan. Ini salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh pihak per-bank-kan untuk mendorong para industriawan atau perusahaan-perusahaan yang ingin membangun pada sentra-sentra produksi.

Adapun yang menjadi hambatan atau kendala adalah, industri di daerah-daerah pertanian belum bisa digarap secara maksimal karena pengetahuan dari para pelaku ekonomi khususnya per-bank-kan yang belum sepenuhnya menjiwai terhadap upaya pemerintah, mereka lebih senang mempermainkan uangnya pada pasar yang ada di perkotaan sehingga daerah-daerah kawasan industri pertanian tidak tergarap.

Dengan kata lain intermidiasi per-bank-kan belum menyentuh sektor pertanian, sektor industri yang berbasis kepada komoditas unggulan. Inilah sebagai benang merah yang perlu mendapatkan perhatian dari pihak setiap penentu kebijakan pada institusi per-bank-kan, untuk lebih memperhatikan industri-industri di daerah pertanian agar keadaan atau kesulitan masyarakat petani saat ini bisa mendapatkan pertolongan dari apa yang sedang dikembangkan oleh Departemen Pertanian serta jajaran institusi pemerintah lainnya dalam rangka membangun kawasan agropolitan yang berbasis pada komoditas unggulan.

Oleh : John Hamenda (Konsultan PT. Prakarsa Internasional)